HIKMAH PANDEMI COVID-19

Penulis memberanikan diri untuk mengikuti lomba penulisan essai yang diadakan oleh Ukhuwah Islamiyah
Pajak PKN STAN dalam rangka Tax Islamic Fair. Sengaja penulis mengusung tema terkait pandemi sebagai laboratorium kehidupan dari sudut pandang Islam, dimana selain berkesesuaian antara tema dengan kondisi terkini, dan penulis lebih ingin berkontemplasi dan mengambil hikmah atas kondisi yang terjadi saat ini. Karena tidak ada topik atau
tema yang lebih dibandingkan dengan cerita tentang kehidupan pribadi atau apa yang dialami langsung oleh sang
penulis. Banyak kisah-kisah yang dituliskan dalam bentuk cerpen atau novel berdasarkan true story atau kisah hidup sang penulis itu sendiri.
Selanjutnya, cerita tentang pandemi ini semua orang tidak ada yang mengira bisa terjadi semasif ini. Siapa sangka cerita yang awalnya hanya dari Wuhan, Cina bisa menyebar sedemikian masif ke seluruh penjuru dan pelosok dunia. Ini semua dapat disimpulkan bahwa adanya keterlambatan otoritas setempat yang gagal melakukan upaya isolasi daerah ketika pandemi ini pertama kali terdeteksi di Wuhan. Sebenarnya, Islam sudah mengajarkan kepada kita semua kisah dimana timbul pandemi yang menjangkiti suatu wilayah kota. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim yang saya kutip dari internet:
Pada suatu ketika ‘Umar bin Khaththab pergi ke Syam. Setelah sampai di Saragh, pimpinan tentaranya di Syam
datang menyambutnya. Antara lain terdapat Abu “Ubaidah bin Jarrah dan para sahabat yang lain. Mereka mengabarkan kepada ‘Umar bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Umar kemudian bermusyawarah dengan para tokoh Muhajirin, Anshor dan pemimpin Quraish. Lalu ‘Umar menyerukan kepada rombongannya; ‘Besok pagi-pagi aku akan kembali pulang. Karena itu bersiap-siaplah kalian! ‘Abu ‘Ubaidah bin Jarrah bertanya; ‘Apakah kita hendak lari dari takdir Allah? ‘ Jawab ‘Umar; ‘Mengapa
kamu bertanya demikian hai Abu ‘Ubaidah? Agaknya ‘Umar tidak mau berdebat dengannya. Dia menjawab; Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah. Bagaimana pendapatmu, seandainya engkau mempunyai seekor unta, lalu engkau turun ke lembah yang mempunyai dua sisi. Yang satu subur dan yang lain tandus. Bukanlah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, engkau menggembala dengan takdir Allah juga, dan jika engkau menggembala di tempat tandus engkau menggembala dengan takdir Allah? ‘Tiba-tiba datang ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang sejak tadi belum hadir karena suatu urusan. Lalu dia berkata;
‘Aku mengerti masalah ini. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri.’ Ibnu ‘Abbas berkata; ‘Umar bin Khaththab lalu mengucapkan puji syukur kepada Allah, setelah itu dia pergi.’ (HR Bukhari dan Muslim).
Kisah sahabat ‘Umar ibnu Khathab yang mengambil ijtihad atas kejadian tersebut didasari pada hadits Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu:
Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah
Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Dari dua hadits ini kita dapat mengambil hikmah bahwa sebenarnya Islam sudah mengajarkan tata cara
lockdown atau PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) ketika terjangkit suatu wabah penyakit di suatu wilayah. Hal
ini bukanlah kita mengucilkan mereka yang sakit, tapi semuanya untuk mencegah mudharat yang lebih besar, dimana dapat terjadi yang sehat pun terjangkit wabah yang sama. Dan hal ini pun sudah terbukti dimana ketika otoritas setempat terlambat melakukan pembatasan atau lockdown banyak yang terdampak atau terpapar pandemi Covid-19 ini. Kenapa harus diisolasi mereka yang sakit dengan yang sehat? Hikmahnya adalah mengingat keterbatasan kapasitas rumah sakit dan tenaga medis yang mampu menangani wabah ini. Hal ini yang seharusnya dipahami oleh “kaum yang anti lockdown”. Ini semata-mata bukan masalah ekonomi yang akan terjadi resesi atau depresi ekonomi jika terus menerus lockdown, tapi prioritas Kesehatan, keselamatan, kenyamanan, dan keamanan penduduklah yang harus diutamakan.
Alhamdulillah, pemerintah, meski terlambat sebenarnya, lebih berfokus kepada protokol kesehatan sebagai prioritas utama, dibandingkan perekonomian yang pelan-pelan dijadikan prioritas agar penduduk juga dapat bertahan (survive) di tengah-tengah pandemi ini.
Berbicara mengenai ekonomi, memang tidak dapat dipungkiri betapa susahnya kondisi ekonomi sekarang.
Mengingat banyak usaha yang ditutup, pabrik-pabrik tidak beroperasi, pekerja-pekerja banyak yang di-PHK, mekanisme Work From Home (WFH) yang notabene sangat membuat frustasi bagi pekerja yang masih punya pekerjaan.
Pemotongan gaji bahkan ada yang hanya digaji 25% dari yang biasa mereka terima. Hal ini harusnya menggugah kesadaran kolektif kita sebagai ummat muslim. Bahwa kita harus menjadi rahmatan lil ‘alamiin bagi yang lain.
Menyikapi fenomena ini, kita yang mungkin masih diberkahi rejeki yang berlebih, mungkin mulai dapat lebih banyak bersedekah kepada mereka yang lebih membutuhkan. Penulis menyampaikan ini tentunya sudah melakukan hal dimaksud, hal ini bukanlah bermaksud riya’ atau ujub tapi lebih kepada mengetuk nurani kita dan juga mengingatkan penulis juga bahwa banyak mereka yang terdampak di tengah-tengah kondisi yang memprihatinkan ini. Mungkin penulis
belum mampu menyumbangkan sejumlah uang atau bergerak sebagai relawan seperti laiknya orang-orang, namun demikian, kita dapat membantu dengan cara kita masing-masing. Hal yang penulis lakukan misalnya menggunakan atau membeli produk-produk yang dijual oleh orang-orang atau berbelanja di platform marketplace. Apapun marketplace-nya yakinlah bahwa dengan membeli produk tertentu yang tentunya kita butuhkan ada banyak keluarga yang akan tertolong. Sebagai contoh, penulis membeli produk-produk kesehatan seperti misalnya masker, hand sanitizer, face
shield, atau sarung tangan karet untuk aktivitas di luar rumah. Atau menggunakan jasa antar makan untuk membantu para pengemudi-pengemudi daring (online). Yakin saja, dengan kita membeli produk atau jasa mereka maka kita membantu mereka untuk tidak meminta-minta di luar. Selain itu, keyakinan kalau kita banyak bersedekah Allah akan memberikan ganjaran yang berlipat ganda.
Selanjutnya, hikmah yang dapat diambil dari kondisi pandemi ini adalah kita menggalakkan kampanye hidup bersih. Islam ribuan tahun yang lalu sudah mengajarkan kepada pemeluknya bahwa menjaga kebersihan itu adalah hal
yang utama. Rosulullah sebagai sosok yang sederhana, namun selalu tampil sempurna, bersih, dan wangi. Beliau selalu mencuci tangan ketika akan makan, mandi ketika akan menunaikan ibadah shalat, mengulang wudlu kembali jika berhadast. Hal ini sejalan dengan protokol Covid-19 yang digaung-gaungkan oleh badan kesehatan dunia, WHO, untuk menjaga kebersihan dan sanitasi pribadi. Jujur, tidak mudah memang untuk mencontoh pribadi yang mulia Rosulullah shallallahu ‘alaihi wassalam secara paripurna tapi mungkin kita termasuk saya, mencontoh hal-hal kecil seperti mencuci tangan sebelum makan. Hikmah selanjutnya dari pandemi sebagai laboratorium kehidupan adalah kita memiliki waktu yang banyak, baik kuantitas maupun dari sisi kualitas, untuk keluarga tersayang. Pelarangan untuk keluar rumah atau membatasi aktivitas di luar rumah membuat kita dapat mendidik dan mengajarkan anak istri kita tentang nilai-nilai agama dan kehidupan. Lebih mengakrabkan dan mendekatkan diri satu sama lain, dimana ketika waktu sebelum pandemi ini waktu kita sangatlah kurang untuk anak istri di rumah. Ini hikmah yang dapat kita petik dari pandemi ini. Mungkin kita bisa belajar mengaji, mengecek shalat kita sudah sesuai dengan kaidah-kaidah sunnah nabi atau belum, termasuk anggota
keluarga kita.
Terakhir, harapannya semoga kondisi ini dapat membuat kita mengambil hikmah bahwa semua ini adalah cobaan dan ujian dari Allah subhanu wa Ta’ala kepada seluruh ummat manusia. Mungkin selama ini kita banyak melalaikan perintah-Nya malah mengerjakan larangan-Nya. Hikmah untuk lebih berempati kepada sesama, hikmah mendekatkan diri ke agama dan dengan keluarga, serta hikmah bahwa ujian ini mampu kita hadapi asalkan kita bersama-sama satu sama lain, saling bergandeng tangan bahu membahu. Sebagai suatu bangsa dan ummat dan bagian dari kemanusiaan. Aamiin!

Diterbitkan oleh ardiansyahsalim

nothing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: