Perubahan Sebagai Suatu Keniscayaan:Wajah Baru Bea Cukai Indonesia

“Nothing endures, but change” –Heracletos (540-480 SM)


Ketika saya mengetahui adanya lomba penulisan esai terkait Ditjen Bea Cukai, antusiasme saya dan adrenalin saya langsung
meningkat, kenapa demikian? Karena mohon maaf, banyak hal yang ingin saya sampaikan terkait Direktorat yang satu ini terkait beberapa hal. Berbeda dengan instansi-instansi pemerintahan lainnya. Direktorat
ini mungkin bisa dikatakan sebagai lembaga pemerintahan yang menjadi “musuhnya orang-orang yang ingin punya barang impor”.
Mungkin saya terlalu gegabah menggunakan parafrasa ini, namun demikian, pencitraan ini mungkin lekat di institusi ini mengingat di
pemberitaan sangat erat penyitaan-penyitaan barang-barang mewah seperti mobil mewah, motor mewah, minuman-minuman keras ilegal dan sekarang yang sedang trending adalah sepeda lipat yang harganya
cukup fantastis.
Tidak dapat dipungkiri, tugas yang diemban oleh Bea Cukai sangatlah mulia. Semuanya bertujuan agar barang-barang mewah dan
ilegal tidak gampang masuk ke Indonesia. Hal ini agar pajak barang-barang tersebut dapat dipungut, sehingga mendatangkan pemasukan bagi negara yang sedang kesulitan seperti sekarang ini. Namun demikian, kalau dikembalikan pada Konstitusi, adalah semua hak orang untuk memiliki sesuatu, sehingga hal ini yang perlu edukasi yang masif terkait tugas dan fungsi Bea Cukai kita ke masyarakat. Hal ini agar jangan menimbulkan persepsi yang keliru tentang Bea Cukai dan juga agar masyarakat jangan kadung menyematkan stereotype negatif terhadap lembaga yang satu ini. Karena sudah kadung timbul persepsi bahwa barang-barang hasil sitaan Bea Cukai disita dan dijual atau digunakan secara pribadi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Atau terkadang bagi seseorang yang membawa barang-barang mewah dari luar negeri menjadi “incaran” oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk dimintai sejumlah uang mengingat prosedur yang berbelit terkait pajak barang mewah. Perlu dilakukan pembenahan di internal Bea Cukai, dimana prosedur yang jelas, sederhana, dan tidak membeda-bedakan atas masuknya barang-barang mewah. Terkait barang-barang ilegal saya sepakat itu tidak ada kompromi dan perlu penegakan hukum yang tegas. Namun, beda cerita ketika menyangkut barang-barang mewah yang coba “diselundupkan” oleh misalnya penumpang di bandara. Hal ini perlu ditingkatkan sosialisasi yang masif terkait pelarangan barang-barang mewah ini. Sebagai contoh, pemanfaatan media sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook, ataupun Youtube dan media-media sosial lainnya terkait peraturan-peraturan barang-barang yang masuk ke Indonesia. Ketika saya mencoba masuk ke kanal Youtube bea cukai isinya lebih kepada kegiatan internal Bea Cukai ataupun operasi-operasi penangkapan yang berhasil dilaksanakan. Mungkin bisa dibuatkan video-video singkat mengenai peraturan-peraturan terkait Kepabeanan yang akan mengedukasi masyarakat. Karena banyak yang mengeluhkan bahwa Bea Cukai itu “rese”, “ribet”, karena seperti mencari-cari kesalahan saja.
Hal ini yang harus diperjelas.Terutama sekarang munculnya fenomena jastip (jasa titipan) yang dilakukan oleh individu. Bisnis jastip ini sebenarnya merugikan negara mengingat barang-barang jastip yang masuk tersebut tidak terkena pajak, dan ini jelas-jelas merugikan negara. Selain itu, masuknya barang-barang jastip ini juga merugikan
usaha kecil menengah (UKM) yang ada di Indonesia. Perlu pengaturan tersendiri terkait fenomena jastip ini.
Direktorat Jenderal Bea Cukai juga bisa membuat video yang diunggah di Youtube menggunakan judul-judul yang memancing rasa penasaran orang untuk membuka kanal Bea Cukai (istilahnya click bait). Ini dapat memancing rasa penasaran masyarakat. Atau mengundang dan berkolaborasi dengan para vlogger-vlogger yang memiliki subscriber yang banyak, misalnya Dedy Corbuzier, dan lain-lain. Dapat juga misalnya menjadikan salah satu public figure yang sudah dikenal
khalayak umum untuk dijadikan duta atau agent of change bagi perubahan wajah Bea Cukai yang lebih baik, bersih, dan melayani. Hal ini perlu dikampanyekan secara masif di seluruh media-media sosial.
Bahkan kalau diperlukan dialokasikan anggaran khusus untuk media sosial berbayar sehingga akan muncul atau pop up di para pengguna media sosial. Karena harus diakui, mayoritas masyarakat saat ini tidak terlepas dari gawai yang mereka miliki dengan beragam aktivitas yang mereka lihat di gawai mereka. Sehingga perlu adanya perubahan
strategi sosialisasi mengenai Bea Cukai. Perubahan logo mungkin dapat dipikirkan juga sebagai salah satu alternatif bahwa Bea Cukai saat ini menuju hal yang lebih baik. Hal ini menjadi judul tulisan saya, karena di dalam ilmu organisasi perubahan itu suatu keniscayaan, karena tidak ada yang abadi di dunia selain perubahan itu sendiri seperti kutipan yang saya kutip dari Heracletos seorang filsuf Yunani kuno.
Kemudian, penerapan inovasi-inovasi seperti pemanfaatan teknologi Augmented Reality (AR) sebagai media edukasi dan sosialisasi. Misalnya, ketika seseorang datang ke bandara atau pelabuhan, maka secara otomatis akan ada sms blast atau notifikasi yang memberitahukan bahwa Bea Cukai memiliki teknologi AR terkait penjelasan barang-barang terlarang dan yang dibolehkan untuk masuk ke Indonesia. Dan ketika seseorang tersebut mengunduh aplikasi dimaksud maka akan ada petugas yang menjelaskan secara virtual dan seolah-olah hidup dalam memberikan edukasi dimaksud. Hal ini akan
menjadi hiburan tersendiri bagi para penumpang pesawat atau kapal yang sambal menunggu waktu sebelum keberangkatan mereka dan ini juga memberikan pencerahan untuk para penumpang, sehingga ketika
mereka kembali dari perjalanannya mereka sudah teredukasi dengan baik. Segala risiko yang timbul ketika mereka tetap “nekat” membawa barang-barang yang terlarang tersebut menjadi beban mereka sendiri,
sehingga tidak ada lagi alasan bahwa mereka kurang teredukasi terkait hal dimaksud.

Selain itu mungkin memperbanyak sosialisasi-sosialisasi visual di bandara, pelabuhan, atau tempat-tempat keramaian terkait barang-barang Kepabeanan. Mengingat manusia adalah makhluk visual, apalagi masyarakat Indonesia budaya literasinya yang diakui kurang jika dibandingkan dengan negara-negara maju, sehingga rakyat kita lebih suka penjelasan yang visual dan infografis yang menarik. Hal ini lebih melekat di pikiran (top of mind) daripada jika diminta untuk membaca peraturan-peraturan yang panjang lebar dengan mengunjungi laman Bea Cukai. Tentunya visual-visual yang disampaikan harus mempertimbangkan kelompok rentan, seperti misalnya kelompok disabilitas. Pemanfaatan huruf braille, penggunaan warna yang ramah bagi tuna netra, dan hal-hal lainnya yang bisa mengakomodir para
kelompok disabilitas. Saat ini ada panduan yang bisa digunakan ketika membuat laman website yang ramah penyandang disabilitas. Mungkin Bea Cukai dapat mempelopori hal dimaksud. Mengingat saat ini Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara sedang gencar-gencarnya melakukan penilaian unit pelayanan publik yang ramah terhadap kelompok rentan dan kaum disabilitas.
Sebenarnya masih ada beberapa inovasi yang dapat kami sampaikan, namun mengingat maksimal tulisan ini hanya empat halaman, sehingga hanya ini usulan prioritas kami yang mungkin dapat dijadikan pertimbangan. Harapannya semoga Bea Cukai dapat menjadi
institusi yang memiliki pencitraan yang baik di mata masyarakat, berubah dari yang tadinya dibenci menjadi yang disukai dengan wajah baru Bea Cukai. BRAVO Bea Cukai!

Diterbitkan oleh ardiansyahsalim

nothing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: