STRATEGI EKSPOR DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Latar Belakang
Tahun 2020 ini dapat dikatakan merupakan tahun terkelam, menurut saya pribadi, sepanjang hidup yang saya jalani. Tahun terkelam ini tidak hanya dialami oleh Indonesia an sich tapi juga negara-negara di seluruh dunia. Mungkin dulu tragedi 1998 parsial dialami Indonesia dan beberapa negara yang terkena krisis moneter atau kejadian tragedi 9/11 tahun 2001 yang hanya dialami oleh Amerika Serikat dan memang dampaknya ke negara-negara lain, tapi tidak semua negara terdampak atas kejadian penyerangan Gedung WTC di Amerika Serikat. Tahun 2020 ini, seluruh negara terdampak, mulai dari negara-negara adidaya seperti China dan Amerika Serikat, juga negara-negara berkembang seperti Indonesia dan negara-negara di belahan benua Afrika. Ya, memang akibat Covid-19 seluruh sendi kehidupan terhenti. Roda perekonomian yang terdampak
betul akibat pandemi yang tidak ada yang dapat memprediksi kapan selesainya. Bahkan berdasarkan laporan-laporan keuangan yang sudah dirilis di beberapa negara maju tanda-
tanda resesi sudah terjadi. Negara seperti Jerman, Jepang, Inggris dan lain-lainnya sudah terkena resesi. Lantas bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia yang tengah gencar-gencarnya membangun infrastruktur mulai dari jembatan, bandara, jalan tol, Pelabuhan, dan infrastruktur lainnya pastinya terdampak juga dengan kondisi Covid-19 ini. Karena tidak ada negara yang imun atau kebal terhadap perlambatan ekonomi ini. Yang menjadi masalah adalah bagaimana strategi yang mungkin dilakukan agar tetap dapat bertahan di tengah-tengah pandemi ini? Selanjutnya, penulis akan mencoba mengusulkan strategi apa yang mungkin ditempuh oleh pemerintah, khususnya Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dalam mengatasi kelesuan ekonomi ini dari sisi pembiayaan ekspor.

Pembahasan

Menteri Keuangan Sri Mulyani sudah memaparkan ke publik bahwa ada kemungkinan terjadinya perlambatan ekonomi hingga tahun depan. Banyaknya pekerja-pekerja yang sudah terkena gelombang PHK sehingga terciptanya pengangguran-
pengangguran baru akan menimbulkan masalah-masalah baru. Meskipun stimulus sudah dikucurkan yaitu dengan bantuan langsung tunai (BLT) yang diharapkan menjadi katalis dalam pemulihan ekonomi nasional, namun hal ini hanyalah semacam oase di tengah gurun perlambatan ekonomi. Tidak mampu menjadi penyembuh, hanya sebagai penekan rasa sakit yang sifatnya sementara.

Kini, kita tidak bisa mengharapkan negara lain untuk membantu kita sementara mereka pun juga mengalai kesulitan yang sama dengan Indonesia. Hal yang mungkin dapat kita lakukan adalah kemandirian ekonomi, yaitu pemenuhan kebutuhan-kebutuhan
dalam negeri dan mengurangi impor. Menjadi isu yang senantiasa berulang di negara kita adalah defisit neraca berjalan yang selalu terjadi tiap tahun dalam pembahasan APBN.
Besarnya pengeluaran dibandingkan pemasokan, dimana tingginya angka impor dibandingkan angka ekspor, adalah salah satu penyebab terjadinya defisit neraca berjalan.
Sebenarnya, kondisi Covid-19 ini membawa blessing in disguise bagi negara kita, asalkan kita mampu memandangnya dari perspektif optimisme sebagai suatu bangsa yang
berdaulat. Seperti kutipan yang menyatakan, “desperate time needs desperate measure”.
Bahwa kita harus mampu melihat peluang yang dapat diambil meskipun dalam kondisi sesulit apapun.
Kondisi yang terjadi sekarang ini adalah momentum kita semua untuk fokus pada produk-produk lokal buatan Indonesia. Selain itu strategi pengembangan UMKM yang
saat ini sedang megap-megap akan kondisi ekonomi yang sulit ini. Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (disingkat LPEI) sebenarnya dapat mengambil momentum ini yang
selanjutnya akan dibahas satu persatu pada bagian berikutnya.

Kebijakan Satu Data Indonesia
Apa itu kebijakan satu data Indonesia? Kebijakan Satu Data Indonesia (SDI)
merupakan upaya pemerintah dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas tata kelola data pemerintah. Kebijakan ini bermanfaat untuk pengambilan keputusan dan sebagai
bentuk pemenuhan kebutuhan data bagi masyarakat. Momentum ini sebenarnya dapat dimanfaatkan oleh LPEI untuk menghimpun preferensi masyarakat dalam pemenuhan kehidupannya sehari-hari. Sebagai contoh, dapat dipelajari kebiasaan-kebiasaan rumah
tangga sehari-hari di suatu keluarga, makanan dan minuman kesukaannya, barang-barang yang dibeli, dan lain-lainnya. Dari sini dapat diambil acuan kira-kira produk mayoritas
yang dibutuhkan mayoritas keluarga dunia. Setelah terkumpulnya data tersebut maka LPEI dapat memfokuskan diri kepada pembiayaan produk-produk apa saja yang menjadi
kebutuhan masyarakat sekarang ini. Tentunya dengan adanya pandemi ini maka preferensi produk yang dibeli atau dikonsumsi oleh orang-orang akan berbeda dari kondisi sebelum pandemi. Misalnya sebagai contoh, orang-orang tidak lagi membeli barang-barang mewah atau kebutuhan seperti sandang, tapi lebih kepada pangan. Atau fenomena yang terjadi menurut data yang disajikan oleh asosiasi penjual mobil Indonesia, ternyata penjualan mobil selama pandemi ini meningkat . Hal ini disebabkan banyaknya orang yang takut untuk menggunakan sarana transportasi umum dan kebijakan ganjil genap (GAGE) di Jakarta yang dihapuskan selama pandemi ini. Jadi adanya perubahan-perubahan atau pergeseran (shifting) pola hidup dan kebiasaan yang berubah selama pandemi ini terjadi. Ini yang harus mampu dibaca oleh LPEI sendiri. Karena, data ke depannya dapat dikatakan lebih berharga dari logam mulia. Karena siapapun yang mampu mengolah data menjadi sumber uang yang akan memegang masa depan. LPEI
dapat menjajaki kerjasama dengan search engine seperti Google atau media sosial seperti Facebook, Twitter, dan platform lainnya untuk mengetahui preferensi orang-orang, caranya dengan menggunakan survei.

Diversifikasi Produk dan Pemberian Added Value
Selama ini produk-produk buatan Indonesia sering kalah bersaing dibandingkan dengan produk-produk negara lain. Hal ini menurut analisis pribadi kami mengingat produk Indonesia mahal dari sisi harga. Meskipun kualitas produk Indonesia dapat dikatakan bersaing dengan produk dari negara-negara lain. Sebagai contoh, produk-produk dari negara seperti Cina, diproduksi secara massal sehingga dapat menekan
variable cost maupun fixed cost yang timbul dari produksi suatu produk. Tentunya kita dapat memberikan nilai tambah (added value) pada produk dalam negeri kita. Sebagai
contoh, mungkin seluruh dunia produksi masker kesehatan, tapi kita harus membuat nilai tambah terhadap masker tersebut. Misalnya, kini banyak beredar di pasaran masker-masker bermotif songket atau masker bermotif batik. Kreasi yang unik demikian jika
dilakukan pengemasan (packaging) yang tepat maka dapat dikatakan produk Indonesia bisa bersaing dan “berbicara” di kancah internasional. Dapat juga menggandeng desainer-
desainer Indonesia untuk membuat masker-masker yang unik yang mencerminkan kearifan lokal bangsa Indonesia. Contoh lain misalnya, masker yang dibuat mengandung
kearifan lokal, misalnya maskernya mungkin bisa dimodifikasi menggunakan daun kayu putih atau rempah-rempah yang aman dan berkhasiat. Ini mungkin strategi atau inovasi yang berbeda dari yang lainnya, yang belum terpikirkan sebelumnya. LPEI mungkin dapat menginisiasi pembiayaan terhadap inovasi-inovasi ini. Dan tentunya produk-produk yang laku saat ini adalah produk yang sifatnya perlindungan diri terhadap
pandemi Covid-19.
Hal yang juga tidak kalah pentingnya adalah pengemasan dan promosi. Ini kadang yang menjadi salah satu penyebab kenapa produk kita kurang dilirik oleh masyarakat luar negeri. Packaging dimaksud tidak perlu yang rumit, cukup yang simple saja. Mungkin dapat memanfaatkan bahan-bahan daur ulang, namun packaging yang unik akan
menggugah seseorang untuk membelinya. Sebagai contoh, kita mengetahui betapa mahalnya daun pisang dijual di Jepang, karena ketiadaan pohon pisang di Jepang sana. Hal ini mungkin dapat menjadi peluang pembiayaan ekspor daun pisang oleh LPEI, mengingat adanya niche market di situ. Perlu edukasi dari manfaat daun pisang itu sendiri tentunya, sehingga timbul awareness akan produk itu.

Memanfaatkan Marketplace
Pemanfaatan marketplace (belanja daring) yang kini bertebaran dapat dijajaki sebagai strategi kebijakan pembiayaan ekspor. Mungkin dapat dilakukan nota kesepahaman dengan pemilik marketplace kira-kira “pelapak” atau penjual yang mana
saja yang paling aktif dalam melakukan transaksi. Hal ini mungkin dapat diberikan pembiayaan untuk memperluas ekspansi pasarnya ke pasar luar negeri atau dieskpor.
Tentunya dengan melihat jumlah produk-produk yang terjual, produk tersebut merupakan hasil karya bangsa sendiri, dan dimungkinkan untuk menembus pasar ekspor. Banyak sebenarnya para penjual di marketplace mungkin ingin meluaskan sayap bisnisnya ke luar negeri, namun terkendala dengan prosedur yang berbelit-belit atau tidak memahami
hal-hal apa saja yang perlu diurus.

Memanfaatkan Influencer
Era digital 4.0 saat ini dimana begitu masifnya media sosial dikonsumsi oleh
masyarakat, sehingga perlu memanfaatkan para influencer-influencer atau endorser
istilahnya sekarang, sehingga produk-produk yang akan diekspor mampu bersaing dan memiliki promosi yang masif. Sebagai contoh, jika kita menyaksikan music video yang diunggah oleh penyanyi asli Indonesia yang namanya sudah go public, yatu Rich Bryan yang mempromosikan produk Indomie sebagai produk unggulan dari Indonesia. Seperti
yang kita ketahui, Rich Bryan memiliki follower yang tidak sedikit, sehingga hal ini mungkin dapat kita manfaatkan sebagai peluang pemasaran produk-produk Indonesia. Karena selama ini Indonesia selalu terlambat dalam mempromosikan keunggulan yang dimilikinya. Ketika negara-negara lain sudah mempromosikan keindahan alamnya dan pariwisatanya bekerjasama dengan pemegang TV kabel seperti Fox, Star TV, AXN,
sehingga dibuatlah acara khusus seperti Amazing Race yang mengangkat pariwisata di negara tersebut, Indonesia baru mengikutinya. Tapi, seperti yang dikatakan, better late
than never, akhirnya Indonesia baru membuat iklan di jaringan-jaringan TV kabel.
Contoh lain memanfaatkan influencer seperti misalnya LPEI dapat memanfaatkan momentum melakukan ekspor rendang ke luar negeri tentunya dengan packaging yang
menarik dan aman. Momentum dimana Chef ternama dunia Gordon Ramsey dalam acara kulinernya Uncharted mempromosikan rendang sebagai salah satu makanan yang
terenak di dunia. Mengapa kita tidak mengambil momentum itu? Menggantikan negara Thailand yang lebih dulu sudah terkenal dengan buah-buahan tropikalnya dan makanannya. Ini adalah momentum yang baik dimana Indonesia sudah terkenal dari sisi yang positifnya.

Produk yang Berorientasi Lingkungan
Faktor ini dapat dijadikan sebagai salah satu critical success factor—meminjam
istilah manajemen. Dimana di negara-negara Eropa tuntutan akan produk-produk yang ramah lingkungan menjadi salah satu faktor penentu suatu produk eskpor akan diterima
di pasar Eropa. Produk-produk yang menggunakan bahan-bahan kemasan daur ulang, organik, dan ramah lingkungan akan menjadi pilihan bagi masyarakat Eropa. Karena penduduk Eropa sangat peduli atau concern dengan isu-isu lingkungan. Pelajaran yang dapat dipetik dari produk minyak sawit kita yang ditolak karena ditengarai ditanam dengan pengrusakan hutan. Hal ini harusnya menjadi catatan dan hikma yang dapat kita petik bahwa suatu produk yang hendak diekspor harus memenuhi kriteria-kriteria misalnya, standar-standar yang ditetapkan di dalam REDD+ Iniative, Fair Trade,
organik, dan dapat didaur ulang. Selain itu mungkin juga dapat dipasarkan produk-produk Indonesia, di pasar luar negeri, produk-produk hasil karya kelompok disabilitas atau produk-produk buatan narapidana binaan lembaga pemasyarakatan, kelompok-kelompok penyandang PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial). Hal-hal ini dapat menjadi nilai tambah bagi produk-produk yang akan diekspor ke luar negeri. Karena
Indonesia sudah mampu memberdayakan dan berkomitmen terhadap isu-isu lingkungan
dan isu-isu kesejahteraan sosial.

Penutup
Indonesia harus mampu melihat peluang meski di tengah kondisi pandemi seperti sekarang ini. Melalui peran serta aktif Lembaya Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) yang diberi amanah khusus dari Menteri Keuangan RI, Ibu Sri Mulyani Indrawati untuk melakukan pembiayaan atas produk-produk Indonesia yang memiliki potensi diekspor. Semoga dengan momentum pandemi ini, produk-produk Indonesia bisa memiliki
keunggulan kompetitif yang lebih dibandingkan produk-produk luar negeri, mampu memenuhi pasar lokal dan pada akhirnya juga memenuhi demand dari luar. Kalau melihat aktivitas-aktivitas LPEI selama LPEI mulai terbentuk hingga sekarang, maka sudah banyak hal positif yang LPEI lakukan demi menggerakkan sector UMKM dan mendorong produk-produk Indonesia “berbicara” di kancah luar negeri. Tetap semangat LPEI dan terus majukan produk asli Indonesia.

Jaya terus LPEI!

DAFTAR PUSTAKA


1)https://lingkarkediri.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-67785550/sri-mulyani-kondisi-ekonomi-akibat-covid-19-diliputi-ketidakpastian-hingga-tahun-depan?page=2
2) Kutipan dari Hippocrates, ketika terjadi pandemi bahwa dalam kondisi yang sulit, maka
Langkah-langkah ekstrim dibutuhkan, seperti misalnya pengobatan yang ekstrim, isolasi,
dsbnya. Namun konteksnya saat ini digunakan ketika seseorang dalam kondisi terdesak sehingga dapat menghalalkan segala cara agar tercapainya suatu tujuan. Kutipan ini juga diadopsi dalam film Mission Impossible: Rogue Nation, 2015.
3)https://menpan.go.id/site/berita-terkini/percepat-program-satu-data-indonesia-lewat-sinergi-antarlembaga#:~:text=JAKARTA%20%E2%80%93%20Kebijakan%20Satu%20Data%20I
ndonesia,pemenuhan%20kebutuhan%20data%20bagi%20masyarakat.
4)https://otomotif.bisnis.com/read/20200815/275/1279603/meski-masih-pandemi-penjualan-mobil-mulai-merangkak-naik
5)https://sains.kompas.com/read/2018/08/21/205840823/gambaran-tren-masa-depan-data-yang-berdampak-pada-bisnis?page=all
6)https://www.youtube.com/watch?v=oFHONLjD4MM (Love in My Pocket edisi Indomie)
7)https://www.youtube.com/watch?v=ied7EVlADgA (episode khusus masakan rendang)
8)https://industri.kontan.co.id/news/produk-cpo-dan-turunannya-dari-ri-mulai-ditolak-di-negara-eropa-ini
9) https://redd.unfccc.int/ inisiatif pengurangan emisi karbon dan deforestasi dunia yang dipelopori oleh United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC)
10)https://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_adil

Diterbitkan oleh ardiansyahsalim

nothing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: