Sumpah Pemuda 2.0

Sumpah Pemuda 1.0
Ketika PPM Manajemen mengadakan kompetisi penulisan terkait Sumpah Pemuda,
kami tergelitik untuk mencoba menuangkan serpihan ide kami ke dalam bentuk tulisan. Hal ini sebenarnya lebih kepada kegundahan kami terhadap situasi Indonesia sekarang. Di
tengah-tengah pandemi Covid-19 yang tidak hanya Indonesia tapi juga seluruh belahan dunia sedang menghadapi situasi yang sama. Roda perekonomian pun terhenti, banyak yang sudah terkena PHK akibat dampak dari wabah ini. Stimulus ekonomi pun digelontorkan, triliunan, namun belum mampu mengembalikan situasi seperti sebelum pandemi terjadi. Dan kini,
membuat kita mungkin terdiam dan merenung, kenapa ya hidup begini amat? Tidak pernah terpikirkan oleh kita situasi bisa begini sulitnya. Dan dampaknya tidak hanya dirasakan oleh golongan tertentu, tapi semua golongan terkena dampaknya. Hal inipun membawa kami ke dalam perenungan, bahwa kira-kira lesson learned atau hikmah apa yang bisa diambil dari
kondisi ini? Apa yang Tuhan mau dari makhluknya sehingga Tuhan memberikan ujian sesulit ini. Kalau ditarik ke dalam konteks peringatan Sumpah Pemuda yang sebentar lagi akan kita peringati, mungkin kita bisa meneladani para pemuda-pemudi yang terdahulu dalam berjuang untuk membebaskan dan menyatukan Indonesia. Ide mereka mungkin tidak akan pernah terpikirkan oleh kita yang tinggal menikmati kemerdekaan ini. Jujur, menyatukan Indonesia yang seberagam dan seluas ini bukanlah perkara yang mudah. Sehingga ketika Pemuda 1928 (ijinkan saya memberikan penamaan seperti ini) membuat gebrakan meneguhkan pendirian, menyingkirkan ego kedaerahan untuk bersama-sama menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, itu adalah pemikiran yang melampaui zamannya. Kenapa bahasa Indonesia yang dipilih? Ini mungkin merupakan hasil dari strategi dan pemikiran yang mungkin bagi kita terkesan remeh. Mungkin dari kita akan berpandangan bahwa bahasa Indonesia bahasa yang gampang untuk diucapkan, mungkin sesimpel itu. Tapi ternyata tidak sesimpel itu. Ada aspek geopolitik dan kondisi yang berkembang ketika itu sehingga mengapa pertimbangan pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu.
Untuk lebih lengkapnya bisa membaca tulisan dari blog ini:
https://www.zenius.net/blog/17162/sumpah-pemuda-mengapa-bahasa-indonesia.
Pemilihan bahasa Indonesia yang notabene berasal dari rumpun bahasa Melayu mungkin akan menjadi pertanyaan juga, dimana mayoritas pemuda yang mengikuti Kongres
Sumpah Pemuda tersebut notabene-nya adalah orang Jawa, sehingga kalau boleh egois sebenarnya mereka bisa saja mencanangkan bahwa bahasa pemersatu kita adalah bahasa Jawa. Tapi, itulah teamwork (kerjasama tim). Mereka mampu menekan ego sektoral dan kedaerahan mereka untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, daripada sekedar memperjuangkan bahasa daerah mereka masing-masing. Dengan berjiwa besar mereka rela mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadi mereka demi kepentingan yang lebih besar. Kalau ditarik ke konteks manajemen, KPI para pemuda ini jelas. Bersatu untuk merdeka.
Lantas, disusunlah CSF-CSF yang akan mendukung KPI dimaksud. Dibuatlah daftar-daftar yang perlu untuk dipertegas, turunan dari visi besar dimaksud. Sehingga muncullah 3 (tiga) besaran yang perlu penegasan dan common goal (sasaran bersama). Bahwa untuk mencapai
kemerdekaan Indonesia haruslah ada persatuan, kesamaan frekuensi. Apa itu? Penegasan bahwa tanah air kita adalah tanah air yang satu, tanah air Indonesia. Bahwa kita bisa kemana-mana tanpa perlu adanya pos-pos perbatasan, bahwa dari Sabang sampai Merauke adalah milik kita semua, sebagai bagian dari Indonesia. Kemudian bangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kita adalah suatu entitas yang sama, terlepas dari suku-suku kita yang berbeda. Kita adalah wajah Indonesia. Dan terakhir adalah sebagai perekat itu semua, bahasa. Sebagai
medium untuk mempermudah komunikasi, agitasi yang akan membakar semangat dan gelora untuk merdeka. Dengan bahasa akan mudah menyebarkan propaganda-propaganda keinginan untuk merdeka. Dengan bahasa, kita dapat menggugah hati tiap rakyat untuk bersama-sama merdeka. Dari susunan kalimat pernyataan Sumpah Pemuda ini tergambar bahwa pemuda 1928 adalah para pemuda yang jenius pada masanya, meskipun mungkin level pendidikan mereka tidaklah sebagus Pemuda 2020/Pemuda milenial. Hal ini tergambar
dari pernyataan sikap yang mereka namakan Sumpah. Kenapa Sumpah? Karena Sumpah
adalah bentuk komitmen tertinggi manusia terhadap suatu hal yang hendak dicapai. Sumpah di dalam islam pun dimulai dengan kalimat “Demi Allah”. Bentuk mitsaqon ghaliza (ikatan suci) antara makhluk dengan Sang Khalik. Bahwa jika mengkhianati Sumpah itu seseorang siap untuk hidupnya tidak diridhoi oleh Allah subhanu wa ta’ala. Bahwa dengan Sumpah adalah bentuk integritas seseorang, walk the talk. Seia sekata antara ucapan dengan perbuatan. Selanjutnya, kenapa kata “Indonesia” yang dipilih? Ini menggambarkan branding atau pemilihan merk yang mungkin tidak pernah terlintas bagi kita yang hidup sekarang ini. Branding ini sangat kuat. Pemilihan akar kata Indonesia, dibandingkan menggunakan Hindia Belanda. Bahwa dicetuskan oleh Tan Malaka dalam bukunya yang menggunakan istilah Indonesia untuk menamai negara yang tercinta ini. Dan menjadi trending di kalangan pemuda
saat itu, #Indonesia. Tidak ada yang mempertentangkan pemilihan Indonesia ini, tidak seperti pemuda-pemuda sekarang yang terkadang atas suatu hal-hal yang tidak penting (baca: receh) bisa menjadi polemik yang berlarut-larut.
Kemudian, susunan Sumpahnya pun dibuat dari gambaran yang besar terlebih dahulu,
bahwa tanah air tempat kita bernafas, berpenghidupan, dan kelak kita akan dikuburkan. Kemudian mengerucut ke hal yang berikutnya perasaan senasib dan sepenanggungan sebagai suatu bangsa, bahwa kita harus bergerak bersama-sama sebagai suatu bangsa untuk merdeka, dan yang terakhir adalah bahasa sebagai sarana atau medium komunikasi dan agitasi perjuangan. Dan jika kita melihat mereka adalah para pemuda yang berjiwa agile
(tangkas). Mampu “membaca masa depan”. Kenapa saya bisa mengatakan demikian?
Meskipun mereka di bawah tekanan koloni penjajah, namun dorongan untuk merdeka sangat kuat. Dan mereka menyiasatinya dengan mengadakan suatu Kongres Pemuda. Dimana Kongres Pemuda inilah peletak dasar kemerdekaan RI. Memang tidak ada satupun yang mampu memprediksi kapan Indonesia bisa merdeka, namun setidaknya mereka berusaha dan mencanangkan di sanubari mereka motivasi dan mimpi untuk merdeka. Dengan demikian, setiap langkah dan taktik serta strategi yang mereka ambil ke depannya akan fokus dan mencapai sasaran. Bahkan,seperti yang kita ketahui lagu kebangsaan Indonesia Raya pun sudah diperdengarkan meskipun lewat biola oleh sang penciptanya langsung, sang maestro
W.R. Supratman. Ini merupakan gambaran bahwa mereka kapanpun itu, terlepas dari waktu yang sebentar maupun lama, sudah siap untuk merdeka.
Sumpah Pemuda 2.0
Lantas, bagaimana dengan kita, para pemuda yang tinggal melanjutkan perjuangan mereka? Miris memang jika kita bandingkan dengan diri kita pribadi dengan pemuda-pemuda dahulu. Pemuda 1928 bukanlah bucin, fokus mereka jelas untuk berjuang demi orang yang mereka kasihi. Tapi tidak ada perasaan galau, lemah diri, atau “diperbudak oleh cinta”. Siapa yang saat ini mampu menjadi Hatta muda, Soekarno muda, Sjahrir muda, Tan Malaka muda,
dll-nya dimana dalam usia muda seperti itu pemikirannya melampaui pemikiran Pemuda saat ini. Menulis buku, mengikuti rapat-rapat penting, menulis ide-ide di koran-koran, keluar masuk penjara, berdiplomasi, membakar semangat pemuda yang lain. Tidak ada waktu untuk hal-hal yang “receh” seperti yang dilakukan pemuda jaman sekarang.
Menurut saya pribadi, kita perlu mengadakan Kongres Pemuda jilid dua (Kongres
Pemuda 2.0) untuk mengulang sumpah kita atau janji kita terhadap ibu pertiwi. Seperti halnya di suatu pernikahan, banyak dari pasangan-pasangan yang memperbaharui janji suci mereka satu sama lain. Demikian halnya dengan Sumpah Pemuda 2.0 ini. Perlu adanya landasan agar kita para pemuda atau nanti anak cucu kita memiliki pedoman dalam menjalankan negara ini.
Negara yang jika diibaratkan sebagai suatu korporasi, maka para karyawannya yaitu bangsa Indonesia, harus memahami dan memiliki persamaan visi, misi, dan KPI yang hendak dicapai.
Dengan demikian kita mampu menjawab tantangan-tantangan yang ada dewasa ini. Mampu bersaing dengan negara-negara yang sudah lebih maju dari kita. Adakah dari kita yang sudah memikirkan bagaimana caranya kita bisa mengirimkan astronot ke bulan? Atau menciptakan roket yang mampu terbang ke luar angkasa? Sementara kita masih bicara dasar negara yang cocok untuk Indonesia. Padahal masih banyak hal-hal yang lebih besar dan lebih penting lagi untuk dibicarakan selain dari hal-hal yang hanya menguras energi dan mampu merusak
persatuan yang sudah ada ini. Ayo, bersama-sama kita napak tilas para pendahulu kita, yang mampu berjiwa besar mengenyampingkan ego sektoralnya demi Indonesia yang satu, tanah air yang satu, bangsa yang satu, dan bahasa yang satu, Indonesia.

Diterbitkan oleh ardiansyahsalim

nothing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: