Teruntuk Kakak 1….

Apa kabar kak? Sehat-sehat ya mudah-mudahan….
Mau mulai dari mana ya Pak Ngah juga bingung….Pak Ngah tadi tiba-tiba sedih keinget kakak. Terus Pak Ngah coba ambil laptop, menulis. Kata orang menulis itu bisa jadi sel-healing (pengobatan sendiri), untuk jiwa kita. Menuangkan sesuatu yang kita rasa sudah berat dalam hidup.
Mungkin beberapa bulan belakangan ini dunia kakak seperti roller-coaster, naik turun, terombang ambing. Apalagi untuk usia kakak seperti sekarang ini. Pak Ngah, sebagai paman, mencoba memahami perasaan kakak, meski itu tidak mudah. Untuk usia seperti kakak sekarang, mendapat hal seperti ini. Gak mudah memang. Kakak masih butuh tempat mengadu dan berpegangan, menceritakan kehidupan kakak, apa yang kakak rasa, mau jadi apa nanti kakak. Apalagi kondisi pandemi seperti sekarang. Belum bisa keteu dengan teman-teman baru kakak, guru kakak, atau mungkin sahabat kakak.
Beban yang sedemikian berat ini kakak harus pikul sendiri, menjaga rahasia kepada adik-adik kakak, ke saudara-saudara, mungkin ke Pak Ngah juga. Malu, sedih, kecewa, terus bertanya-tanya kenapa ini semua bisa terjadi? Itu wajar kak, manusiawi.
Pak Ngah juga mengalaminya kan? Perasaan malu, sedih, dan kecewa bahkan untuk bertemu dengan orang pun kita menghindar.
Pak Ngah cuma mau bilang, hidup kadang memukul kita dengan sangat keras, sampai kita jatuh terhuyung-huyung dibuatnya. Kakak jangan sampai terpuruk dan diam dalam kejatuhan itu ya sayang. Bangun kak, bangun. Kakak harus bangun, karena kakak paling tertua dari semua. Adik-adik kakak butuh perlindungan kakak, butuh contoh dari kakak, butuh nasihat dari kakak. Mudah-mudahan kakak tidak menyerah dan kuat. Kuat untuk menjadi contoh, kuat untuk memberikan perlindungan kepada adik-adik kakak. Kakak lebih dewasa kok daripada usia kakak sekarang. Kebijaksanaan kakak sudah Pak Ngah lihat dari dulu.
Pak Ngah jadi Ingat ketika dulu kejadian ini pernah terjadi. Ingat kan Kak? Pak Ngah gendong kakak, sambal berbisik, “apapun yang terjadi ayah dan ibu menyayangi kakak. Yang kuat Kak!”. Pak Ngah jujur saking shock-nya bingung harus bagaimana ketika itu, hanya bisa menangis. Apalagi sekarang, Pak Ngah udah tidak bisa bicara apa-apa. Kepikiran Kakak sama abang, sama kakak ke-2*) dan sama adek. Menghibur bukan keahlian Pak Ngah. Tapi Pak Ngah janji, kalau Kakak mau cerita apapun Pak Ngah akan dengerin apapun yang Kakak mau certain. Memang Pak Ngah tidak bisa seperti paman yang lainnya, tapi Pak Ngah akan berusaha akan ada buat Kakak buat cerita. Apapun itu ceritanya. Entah Kakak lagi dekat sama lelaki yang bikin Kakak tersipu malu, atau Kakak lagi marah sama Ayah dan Ibu dan kesal kenapa ini semua bisa terjadi, atau Kakak lagi terpuruk-puruknya. Pak Ngah insya Allah mau mendengarkan itu semua.
Terakhir Pak Ngah, hanya minta Kakak tetap ceria dan tersenyum ya, nak. Hanya senyuman dan keceriaan yang bisa menghadapi dunia yang gak adil ini. Tetap dekat sama Allah, hanya Allah-lah tempat kita mengadu dan berkeluh kesah. Sekarang Kakak fokus ya sama hidup dan kehidupan Kakak. Karena hidup harus terus berjalan Kak. Semua manusia di dunia ini punya masalah, bahkan banyak yang masalahnya sama dengan Kakak. Ambil hikmahnya ya sayang. Mungkin bisa jadi bertahun-tahun, tapi percaya deh Pak Ngah pun juga butuh bertahun-tahun untuk mengambil hikmah atas apa yang menimpa Pak Ngah.
Kakak kuat kok, Pak Ngah percaya….

*) = nanti diceritain ya….

#Day2, #30DWC, #30DWCJilid27

Diterbitkan oleh ardiansyahsalim

nothing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: