5°19′ 12″ – 6°23′ 54″ LS, 106°22` 42″ – 106°58′ 18″ BT

Besok Senin pertama tugasku di kota ini. Setelah kurang lebih setahun pernah dinas di sini. Besok aku kembali lagi. The place is mutual, but the feeling is different. Tempat yang sama, namun kali ini perasaannya berbeda. Kali ini lebih bersemangat. Lebih optimis dengan sejumlah rencana-rencana besar yang melibatkan masa depan. Future career and future life. Aamiin. Tidak peduli mau berapa banyak pekerjaan yang masuk, yang terpenting adalah saya bisa kembali ke kota ini.
Mungkin bagi sebagian orang kota ini terlalu padat, bising, macet, polusi, dan sebagainya. Tapi bagiku kota ini tetaplah kota yang menyenangkan, dengan segala riuh pikuknya. Tetaplah kota dimana ari-ariku dikubur. Tempat dimana makam ayahku beristirahat untuk selamanya.
Sebagus-bagusnya tempat lain, kota ini bagiku selalu di hati, punya kekuatan magis. Tempat aku pernah berjalan kaki dari kantorku yang terletak dengan tugu kebanggaan warganya menuju ke daerah yang ada bundaran dengan patung dua orang yang melambaikan tangan dan memegang seikat bunga, hanya sekedar untuk menikmati senja. Aku pun pernah berjalan kaki dari kantorku sampai ke salah satu terminal terkenal di bilangan timur kota ini, tanpa alas kaki, kutenteng sepatuku sambil berjalan menikmati banjir yang membuat transportasi lumpuh. Hari itu tidak terasa lelah bagiku, karena kulihat sepanjang jalan orang-orang terlihat lebih kelelahan dibandingkan aku, harap-harap cemas kapan sekiranya banjir akan surut dan mereka bisa pulang ke rumah.
Kota ini juga tempat menyimpan rasa. Bahagia, amarah, kecewa, sedih, datar, hingga ketakutan. Cerita hidupku yang penuh warna membuat perasaan tersebut datang silih berganti mewarnai hidupku.
Tapi yang jelas, senja di kota ini adalah senja yang kunanti. Memang, bisa jadi senja di kota ini kalah menarik dengan senja di tempat lain. Tapi senja di kota ini adalah senja awal tempat pulangnya jiwa-jiwa lelah kembali ke rumahnya masing-masing. Mereka yang berpacu dengan waktu untuk berkumpul dengan keluarga setelah seharian bekerja, mencari penghasilan untuk keluarga di rumah dan menyambung hidup. Mungkin membawa makanan ringan atau nasi kotak jatah rapat demi anak istri di rumah. Meski tidak tahu besok akan makan apa.
Kadang orang bilang kota ini kejam. Tapi bagiku pribadi kota ini tidaklah kejam, mungkin memang begini hidup di kota besar, sepertinya kejam, padahal tidak, tidak salah maksudnya, he he he. Memang hidup di kota ini harus mampu bertahan dan disikapi dengan bijak. Kota ini memang tempat pertarungan, tapi kota ini juga hanyalah tempat yang sama halnya dengan tempat-tempat yang lain, penuh dengan kisah, nostalgia.
See u soon, Jakarta!

Diterbitkan oleh ardiansyahsalim

nothing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: