Cerah

Pagi itu cerah. Memandang tugu Monas berdiri tegak dari jendela kantor. Saya mungkin tipe orang yang suka dengan pemandangan kota, bukan tipe orang yang suka dengan pemandangan alam, kecuali pantai. Jujur, saat-saat ini saya lagi kangen-kangennya dengan suasana pantai. Melihat pantai, mendengarkan deburan ombak, angin laut bertiup kencang, bagi saya itu menenangkan. Cukup memandang pantai dan horisonnya membuat saya tenang. Melihat kapal-kapal nelayan mencari ikan di tengah laut. Duduk di pasir pantai sudah cukup untuk mengisi semangat hidup.
Terutama menyaksikan matahari tenggelam di ufuk barat. Cakrawala begitu indahnya saat itu. Saya baru menyadari ternyata matahari itu proses “tenggelamnya” sangat cepat. Dan jika kita punya waktu untuk ke pantai, perhatikan dengan seksama, bahwa matahari tenggelam itu hanya dalam hitungan menit saja, lembayung senja pun tergantikan dan tugas gelap menyelimuti malam dan bintang tampil untuk menghiasi malam yang tenang.
Ada orang yang suka dengan pemandangan gunung dan pepohonan. Tapi jujur saya tidak begitu menyukainya. Mungkin saya sudah terlalu lama menikmati suasana tersebut, sehingga sudah terbiasa dengan sensasinya. Mungkin juga karena saya sebenarnya tidak menyukai udara dingin. Karena dingin identik dengan murung, gelap, kesendirian. Dulu almarhum bapak saya pernah cerita, ketika beliau pernah bertugas di luar negeri. Warga negara “bule” di sana benci dengan musim dingin. Muka mereka murung, menggerutu, dan cara berjalannya pun dengan tempo cepat, agar cepat pula tiba di tujuannya. Beda sekali jika musim panas telah tiba. Mereka bergembira, senyum mengembang menghiasi wajah mereka. Memakai pakaian kasual, cara jalannya pun terlihat santai. Seperti halnya di negara Jepang menjelang musim semi tiba, orang berbondong-bondong, tua dan muda, sendiri maupun bersama keluarga, menikmati berseminya bunga sakura. Piknik di bawah pohon sakura, sambil bicara tentang berbagai hal.
Saya bersyukur hidup di negara yang hanya mengenal dua musim. Bagi kami yang hidup di dua musim ini sangat mudah untuk beradaptasi dengan cuaca dan lingkungan. Mungkin ini juga menjadi faktor kenapa orang-orang asing menyebutka kita bangsa yang ramah. Karena kami dilimpahi jatah untuk menikmati sinar matahari lebih banyak. Karena matahari identik dengan kehangatan, optimisme, dan keceriaan. Banyak literatur yang mengasosiasikan matahari dan sinarnya sebagai penyemangat hidup.

Ditemani segelas teh panas, yang baru dibuatkan oleh staf pramusaji kantor yang baik hatinya, sangat peduli terhadap saya. Karena sebenarnya saya ingin kehadiran saya sunyi, namun entah bagaimana dia melihat saya dan dengan terburu-buru membuatkan teh panas untuk saya.
Terima kasih mbak, dukungan teh panas ini akan membuat saya menjalani hari-hari ke depannya lebih bermakna.
Salam.

Diterbitkan oleh ardiansyahsalim

nothing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: