Pandemi


Saya mungkin sebelumnya menyampaikan permintaan maaf, karena bukan kapasitas saya untuk berbicara tentang pandemi ini dan lagi-lagi topik ini yang saya angkat. Sebenarnya banyak pakar yang memiliki kompetensi dan kapabilitas terkait topik ini. Tapi ijinkan saya bicara dari sudut pandang saya sebagai orang awam. Kegelisahan saya sebagai bagian dari rakyat biasa atau mungkin lebih besar kegelisahannya dibandingkan yang lain. Apalagi beberapa tulisan saya sebelumnya bicara tentang teman saya meninggal karena Covid-19 ini.


Seperti yang diketahui, ini virus tidak terlihat wujudnya. Gejalanya pun beragam. Ada yang awalnya seperti gejala flu biasa atau bahkan ada orang yang tanpa gejala bisa terjangkit penyakit ini. Ada juga yang hilang indera perasanya atau penciumannya. Bahkan sekarang ada istilahnya delirium, yaitu gejala orang yang terkena penyakit ini kehilangan kesadaran, merasa kebingungan, seolah-olah seperti sedang mimpi. Tidak hanya fisik tapi juga mental pasien yang disasar oleh virus ini.
Beberapa hari yang lalu, saya kehilangan orang yang dekat dengan kami semua. Kolega kantor terkena virus ini. Gejala awalnya almarhum terkena seperti gejala flu, namun muka beliau, menurut pengakuan teman-teman yang menyaksikan, raut muka beliau sudah terlihat pucat dan nafas tersengal-sengal. Kebetulan beliau memiliki komorbiditas (penyakit penyerta) yaitu asma dan juga diabetes.
Sempat dirujuk di wisma atlit, namun kemudian setelah mencari beberapa rumah sakit yang mau menerima beliau, akhirnya beliau dirawat di RS duren sawit.


Sedih rasanya melihat foto beliau yang beredar di beberapa grup WA, dipasang alat bantu pernafasan dan ventilator. Teringat kondisi waktu almarhum papa saya yang juga pernah dipasang ventilator menjelang ajalnya.
Beberapa kali kondisi rekan kami ini sempat drop dan kritis. Dan, Allah punya rencana lain yang lebih baik untuk beliau. Ternyata Allah lebih sayang beliau. Beliau berpulang selamanya. Semoga beliau diterima di surgaNya yang terbaik. Aamiin.


Dari kejadian ini, jujur perasaan cemas menggayuti kami semua. Grup-grup Whatsapp yang ada membicarakan kebijakan-kebijakan kantor yang seolah-olah tidak serius dalam menangani masalah ini.


Saya hanya bisa mengikuti dalam diam diskusi yang berkembang, gregetan-nya teman-teman, dan puncaknya adalah marahnya teman-teman terhadap status quo ini, mungkin kemarahan mereka sudah di ubun-ubun.
Jujur, saya bingung mau bersikap bagaimana. Saya coba memahami bahwa tidak mudah memang mengambil keputusan yang sesuai terhadap sesuatu yang sensitif dan sepelik situasi sekarang. Tapi, di satu sisi saya mencoba memahami juga bagaimana perasaan teman-teman yang kehilangan koleganya akibat virus ini. Seperti teman dekat saya pernah berkata, setidaknya kantor hadir di tengah-tengah perasaan rekan-rekan yang lain, memberikan rasa aman dan ketenangan terkait situasi ini.
Bagi saya pribadi, merasakan menjadi pemimpin memang tidak mudah. Ketika beberapa ide dan usulan kita tidak diterima oleh atasan kita, itu rasanya seperti…..campur aduk, antara marah dan kecewa dan perasaan tidak dihargai.


Terkadang mungkin benar yang orang-orang pernah bilang ke saya, kadang niat baik belum tentu dianggap baik bagi orang lain. Tapi setidaknya saya pernah menyuarakan pandangan saya ini. Biarlah orang lain yang menilainya bagaimana.
Mungkin sudah beberapa ide dilontarkan, tapi saya hanya bisa berasumsi mungkin ide-ide yang baik sudah dipatahkan argumentasinya.

Bagi saya pribadi, saat ini saya hanya bisa melakukan ikhtiar-ikhtiar terkait pencegahan virus ini. Hanya itu sejauh yang saya bisa. Selebihnya saya pasrah dan tawakkal kepada Allah. Doa saya hanya satu, tolong lindungi hamba ya Allah. Kalau kami sakit, siapa yang akan menjaga ibu kami? Siapa yang akan men-support biaya hidup kami sekeluarga?
Jangan sampai kami jatuh sakit, itu pinta kami dalam doa yang saya panjatkan tiap saat.
Takut? Itu pasti. Tapi hanya keyakinan yang saya miliki, bahwa Allah akan menjaga hambaNya yang memohon pertolongan dan perlindungan.
Maafkan dosa-dosa kami, ya Allah. Meskipun kami bergelimang dosa, namun sesungguhnya rahmat, karunia, dan ampunanMu yang hanya membuat kami tetap hidup. Terima kasih ya Allah sudah menutupi aib-aib kami. Kami hanyalah manusia yang hina dan tidak memiliki apa-apa di dunia ini. Hanya kepada Mu ya Allah kami mengabdi, dan hanya kepada Mu kami semua akan kembali.

Aamiin.

P.S.: Covid-19 ini nyata adanya! Jadi tetap patuhi protokol kesehatan dan selalu terapkan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak).

Diterbitkan oleh ardiansyahsalim

nothing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: