Tribute to my friend

Sabtu, 19 Desember 2020. Jam baru menunjukkan pukul 22.00 lewat. Namun, lagi-lagi, malam ini kami dikejutkan dengan berita berpulangnya kawan kami, sahabat, bapak dari dua orang anak, dan suami pekerja keras, Mr. G (nama disamarkan) karena Covid-19.

Shock, terdiam, dan bingung. Entah mau sampai kapan akan terjadi “korban” berjatuhan. Mengingat belum ada langkah konkret dari kantor untuk melakukan upaya-upaya yang sistematis dan terstruktur mengingat sudah banyak pegawai yang dinyatakan positif Covid-19.

Aku saat ini hanya bisa mengingat-ingat kebersamaan kami dengan Mr. G. Teman main sepeda ke daerah Senayan sepulang jam kerja, ketika belum banyak yang bersepeda seperti sekarang, di awal-awal bike to work dimulai. Teman hunting bareng baju-baju second, tapi branded, di Pasar Senen, flea market terkenal se-Jakarta untuk orang yang punya uang pas-pasan, tapi mau tampil gaya. Teman menginap bareng di kantor ketika pekerjaan lagi banyak-banyaknya.
Teman sama susah dulu ketika status masih perbantuan…

Aku dengan almarhum belakangan memang berjarak, selain aku ditempatkan di tempat lain sementara engkau di Jakarta. Selain itu, kekecewaan dirimu karena gagal diangkat sebagai pegawai tetap membuat hubungan kita kurang baik, entah kenapa penyebabnya.

Namun, satu hal yang pasti engkau selalu ceria dengan taste fashion yang kekinian, laiknya anak-anak muda jaman sekarang. Maklum, sebagai orang Bandung yang selalu update dengan gaya anak-anak muda kekinian yang disiasati dengan hunting baju-baju murah agar tetap tampil stylish.

Kemampuanmu akan fotografi selalu terasah dengan baik, meskipun engkau pelajari secara otodidak. Sehingga mulai dari pimpinan tertinggi sampai dengan staf pun mempercayai engkau untuk mengabadikan momen-momen berharga ataupun minta tolong untuk mengambil pasfoto untuk keperluan pembuatan paspor, KTP, maupun untuk hal-hal lain.

Dirimu yang tidak pernah menolak pekerjaan, meskipun kondisimu tidak sehat, karena tanggung jawab sebagai fotografer satu-satunya andalan kantor kita, membuat dirimu selalu dapat diandalkan.

Sekarang engkau telah tiada. Aku pun belum sempat berbincang dengan dirimu atau setidaknya menyapa dirimu karena ketika aku ditugaskan di Jakarta, mengingat engkau sudah dirawat di rumah sakit.

Tak terperikan bagaimana istri dan anak-anakmu yang sabar dan bersahaja ditinggal oleh dirimu selamanya. Ketika engkau dinyatakan reaktif Covid-19, istrimu histeris, ini adalah bukti bahwa engkau adalah suami dan ayah yang baik untuk istri dan dua orang anakmu.

Hal yang aku ingat betapa bahagianya dirimu berangkat umroh. Engkau pun dengan penuh semangat menceritakan betapa perjalanan suci itu membuka pemahaman engkau tentang Islam menjadi lebih baik, sejak saat itu engkau selalu melaksanakan ibadah shalat dengan tepat waktu. Aku pun malu dibuatnya, karena engkau lebih baik daripada diriku.

Wahai kawanku sesama swatch’s lover….

Kulihat jam Swatch pemberian dari seorang kawan masih kau jaga dan kau rawat dengan baik. Aku terharu atas penghargaanmu akan pemberian orang. Aku semakin yakin jam itu tidak jatuh ke tangan orang yang ceroboh, kau rawat dengan baik dan kau pakai hampir di setiap kesempatanmu.

O iya, baru teringat, lupa aku bilang makasih atas segala kebaikan-kebaikanmu, terutama telah mengenalkan diriku kepada ceker ayam. Ternyata ceker ayam itu enak!

Teringat waktu itu kita semua ke kampungmu di Cibunar, Bandung. Ada mie kocok Bandung lewat depan rumahmu dan kau bilang ini mie terenak yang pernah ada. Ada ceker ayamnya!!!

Melihat ceker ayam yang masih ada bulu-bulunya, namun engkau mampu meyakinkan diriku untuk ikut mencobanya. Awalnya ragu dan akhirnya ceker itu habislah jua. Sejak saat itu, aku suka dengan ceker ayam. For that, I would say thank you very much…

Aku juga ingat, keluarga besarmu waktu kami di Cibunar dengan tangan terbuka menyambut kedatangan kami dengan segala kesederhanaan, engkau menyambut kami dengan membuatkan makanan khas Sunda lengkap dengan piring kaleng dan gelas kalengnya.

The best dishes i’ve ever had….sambel rawitnya, daun kemangi, timun, lauk ikan asin, semua tersaji hangat dengan nasi yang juga mengepul…..simple yet elegant.

Selamat jalan kawan. Kelak kami semua akan menyusul. Kami tentu akan kehilangan dirimu, engkau termasuk salah satu ahli fotografi terbaik yang kantor kita pernah miliki.
Maafkan segala kesalahan kami, terutama diriku, sehingga kita berjarak. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni segala dosa-dosamu dan diberi tempat yang terbaik, mengingat engkau meninggal dalam keadaan sakit, sebagai penggugur dosa-dosamu.

Mr. Photographer….
Tetap tersenyum ya di sana, karena senyummu dan tawamu membuat dunia lebih berwarna. Kami akan rindu akan candamu, tawamu, dan senyum manismu. Satu hal yang pasti, engkau akan selalu ada di hati dan di pikiran kami….karena engkau orang baik.

Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun….

P.S.:
Ketika nyawa hanya sekedar angka, sampai berapa dari kita yang akan menerka-nerka maut akan menghampiri kita, sebelum langkah nyata itu ada….
For those who lost their lives against Covid-19. Our thoughts and prayers are with you….

Diterbitkan oleh ardiansyahsalim

nothing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: