Kecilku

Masa kanak-kanak atau masa kecil saya mungkin masa yang terbaik dalam hidup saya sejauh ini. Hidup tanpa beban, hanya diisi keceriaan dan permainan.
Sekolah pun diisi dengan hari-hari penuh semangat. Tiap malam seolah-olah tidak sabar untuk menyongsong pagi. Ada sebenarnya sepotong kisah jatuh hati pada seseorang. Tapi entahlah apa bisa dikategorikan jatuh cinta masa kecil. Hehe.

Waktu itu kelas 4 SD kami sekeluarga pindah ke suatu daerah sebelah provinsi Bali, mengikuti ayah yang dinas. Awalnya saya sendiri kecewa dengan kepindahan ini, karena harus pisah dari teman-teman saya di Jakarta. Namun, mau bagaimana, saya masih kecil, untuk mengurus diri sendiri pun sulit. Awal-awal kepindahan masih libur sekolah panjang (dahulu libur sekolah biasanya di bulan Juli). Sehingga hari-hari yang kami jalani terasa lambat.

Tibalah hari pertama sekolah. Saya dengan perasaan campur aduk harus berkenalan dengan orang baru dan suasana baru.
Suatu hal yang membuat perasaan itu mereda, karena jujur saya hampir menangis karena merasa teralienasi dengan yang lain, adalah ketika ada seorang kawan yang menghampiri dengan mengajak berkenalan. Dan saya pun berkenalan dengannya. Tak lama satu persatu teman saya menghampiri saya untuk mengajak kenalan. Sebagai orang yang introvert saya akui memang saya tidak bisa berbasa basi bicara dengan orang baru.

Dalam kelas, hal yang menakjubkan membuat saya heran ternyata sistem belajarnya dibagi-bagi dalam kelompok. Dulu istilahnya CBSA (cara belajar siswa aktif). Jadi masing-masing murid duduk dalam kelompok-kelompok sekitar 8-10 orang untuk mengerjakan tugas-tugas yang sifatnya pribadi maupun kelompok. Dan tiap seminggu sekali akan ada rotasi dengan siswa-siswa lain, sehingga tidak ada yang menetap dalam kelompok yang sama.

Dan sampailah saya di mana ditempatkan dengan kawan saya ini. Dia memang sedikit menonjol dari yang lainnya. Semua orang seolah-olah takut dengan dirinya. Sukanya menjambak rambut kalau lagi marah-marah. Dan saya termasuk salah satu yang terkena jambakan olehnya.

Saya jujur takut juga dengan dia, bahkan ketika ada tugas kelompok menanam biji kacang hijau dia pun datang ke rumah dinas di mana kami sekeluarga tinggal. Anehnya, sikapnya berubah dan dia mulai baik dengan diri saya. Saya pun heran dengan perubahan sikap dia ini.

Hari demi hari kami semakin dekat dan entahlah dia pun semakin baik. Tapi saya menganggapnya hanya teman biasa saja dan sepertinya pun begitu.

Setahun sudah saya di daerah itu dan begitu pun dengan penugasan ayah saya. Saya pun pamit dengan teman-teman baru saya yang sudah mulai dekat satu sama lain. Ketika saya pamit dia pun berkaca-kaca matanya. Saya pun bingung. Mungkin kelilipan debu, entahlah.

Ya, begitulah kisah saya di masa kecil. Cinta saya lebih kepada keluarga dan permainan. Main benteng, gobak sodor, dan permainan-permainan masa kecil lainnya yang sulit ditemukan pada masa sekarang.

Diterbitkan oleh ardiansyahsalim

nothing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: