Play Station

Kebetulan di rumahku ada Play Station (P.S.) kepunyaan keponakan. Dia meninggalkan P.S. kepunyaannya ketika menginap dan suatu saat akan dibawa pulang lagi kalau dia menginap di rumahku.

Sebenarnya masa-masa bermain P.S. sampai pagi sudah lewat. Dulu jujur aku adalah game addict sampai kadang malas untuk sekolah, bawaannya ketika di sekolah ingin buru-buru pulang menamatkan permainan di P.S. Untungnya nilai pelajaranku tidak drop karena orangtuaku tegas kalau masalah sekolah tidak ada bermain P.S.

Sebenarnya di awal-awal aku tidak memiliki P.S., awalnya aku punya Nintendo. Itupun sudah senang sekali ketika memiliki Nintendo. Kemudian setelah Nintendo, ayahku menggantinya dengan Sega. Sega tampilan grafiknya lebih baik dibandingkan dengan Nintendo. Dan ketika ‘demam PS’ dimulai akupun menggantinya dengan Play Station (P.S.). Ketika P.S. muncul saya sangat suka dengan permainan atau game yang berpetualang (adventure).

Kalau sudah main gim petualang, saya bisa sampai pukul 12 lewat memainkannya. Game petualangan yang saya sukai adalah Resident Evil. Gim ini kalau dimainkan malam-malam membuat sport jantung kita. Hal ini didukung oleh sound effect yang seringkali mengejutkan kita. Resident evil bercerita tentang tersebarnya virus yang menyebabkan orang bisa menjadi zombie. Nah, kemunculan zombie-zombie ini yang mengejutkan.
Gim Resident Evil ini semakin menarik karena ada misi-misi yang harus dipecahkan. Jadi di satu sisi ada unsur suspense, thriller, dan juga mystery.

Kalau game untuk berdua adalah Winning Eleven. Game sepakbola. Anak laki-laki mana yang tidak suka sepakbola? Meskipun tidak bisa main sepakbola, tapi hampir semua anak laki suka dengan sepakbola meskipun hanya di video game. Bermain gim Winning Eleven akan membuat keseruan dengan teman-teman. Kadang bisa dibuat sakit hati oleh yang lain. Jika kita kalah, ejekan dan bully-an harus siap-siap kita terima dari yang lain. Gesture-gesture yang membuat kita kesal ketika lawan bermain kita merayakan kemenangan. Tak pelak, kadang bisa berujung pada perkelahian atau salah satu ada yang menangis hanya karena hal-hal sepele seperti ini.

Kini, setelah dewasa, minat untuk bermain PS tidak sebesar dahulu, meskipun sekarang di rumah ada PS. Selain karena PS model terbaru saat ini menurutku sulit untuk mengoperasikannya, juga dikarenakan memang minat diriku untuk bermain PS tidak sebesar ketika masa kecil dulu.

Segala sesuatu ada masanya. Masa dimana kita menyukai atau memiliki hobi namun seiringnya waktu, minat kita akan suatu hobi tersebut akan berkurang atau bahkan akan hilang.

Diterbitkan oleh ardiansyahsalim

nothing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: