Persepsi

Bicara tentang persepsi maka persepsi bisa mengandung bias. Persepsi muncul karena cara pandang dan titik berangkat yang berbeda-beda dari tiap orang dalam memandang suatu masalah. Masing-masing orang mempunyai seperangkat nilai yang berbeda-beda tergantung bagaimana orang itu terbentuk dan pola pikir atau bisa jadi pola asuh orang tersebut.

Suatu hari saya bicara tentang permasalahan yang menimpa salah seorang kawan saya. Cerita tentang teman yang terkena fitnah. Namun, fitnah itu boleh jadi karena persepsi dari tiap orang berbeda-beda.

Sebagai contoh, sebagian orang menganggap pulang bareng dengan lawan jenis adalah hal yang tidak baik. Tapi bagaimana itu terjadi dengan teman yang pulang barengnya terjadi tidak disengaja? Misal, si laki-laki terbiasa pulang menggunakam transportasi kereta. Si perempuan pun juga demikian. Kebetulan yang laki-laki dan perempuan memang menuju arah yang sama.

Bagi saya pribadi, mungkin tidak jadi masalah. Karena baik si laki-laki maupun perempuan adalah teman sekantor sehingga sudah saling kenal dan kebetulan pula mereka menuju tujuan yang sama. Namun, sebagian lain menganggap itu tidak lumrah. Hal ini mengingat keduanya masing-masing sudah berkeluarga, ini menyebabkan situasi menjadi pelik. Sebenarnya di stasiun mereka pun ketemu dengan teman-teman kantor lainnya yang kebetulan juga menuju arah yang sama. Jadi ujung-ujungnya banyak teman pulang bareng, apalagi ini kereta, sarana transportasi publik. Tidak mungkin juga macam-macam. Namun, bagi sebagian yang lain ini adalah hal yang tidak lumrah, sehingga akhirnya timbullah cerita-cerita yang ‘miring’ tentang ‘dua pasangan’ ini.

Kalau saya ditanya tentang hal ini, bagi saya semua berpulang pada pribadi masing-masing. Segala sesuatu itu tergantung niat. Kalau niatnya sudah salah, tidak pulang bareng pun misalnya mereka mau macam-macam bisa saja berjanji untuk bertemu di suatu tempat, misalnya.
Saya pribadi tidak mau ikut campur urusan orang lain karena saya juga tidak lebih baik dari orang lain tersebut.

Tapi itulah persepsi. Karena persepsi yang berbeda-beda setiap orang menimbulkan asumsi-asumsi. Asumsi-asumsi pun akhirnya berubah menjadi cerita gosip yang belum bisa diketahui kebenaran faktanya. Saya sudah mendengarkan gosip-gosip itu dan bagi saya itu urusan mereka masing-masing. Yang terpenting saya mengurusi diri saya sendiri saja mengingat saya juga bukan orang yang bersih dari dosa.

Jadi, sebenarnya cerita teman saya ini tidak menjadi hal yang besar bagi saya. Karena ada cerita lagi yang lebih besar sebenarnya. Mungkin lain kali kalau ada kesempatan dan saya ingat dan ada kemauan tentunya, akan saya tuliskan cerita yang lain yang saya maksudkan itu. Bagi saya cerita ‘yang lain’ ini lebih signifikan bagi saya, karena ceritanya secara tidak langsung ada sangkut pautnya dengan diri saya pribadi. Sekian.

Diterbitkan oleh ardiansyahsalim

nothing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: