Mens rea

Belakangan ini saya sering mendengarkan atau membaca kata ini: motif. Iya, betul. Saya jadi tertarik dengan kata motif ini. Motif menurut pengertian yang saya cuplik dari laman Wikipedia adalah dorongan dalam diri manusia yang timbul dikarenakan adanya kebutuhan-kebutuhan yang ingin dipenuhi oleh manusia tersebut. Motif berasal dari bahasa latin movere yang berarti bergerak atau to move.… Motif sebagai pendorong sangat terikat dengan faktor-faktor lain, yang disebut dengan motivasi.

Setiap orang pasti punya motif. Bisa jadi motifnya bertujuan baik atau bisa jadi bertujuan jahat. Tapi, mungkin bagi orang itu melakukan suatu motif dalam bertindak atau bersikap maksudnya baik. Pada akhirnya motif orang itu tergantung persepsi orang-orang dalam memandangnya.

Saat ini kita dihebohkan dengan motif seorang artis merekam tindakannya dalam waktu 19 detik (mungkin yang membaca ini sudah paham maksud saya, hehe).

Saya ingin membahasnya dalam perspektif peraturan yang akhirnya menjerat sang artis. Saya berdebat dengan rekan kantor terkait motif si artis ini.

Meskipun saya bukan orang hukum, saya pernah membaca istilah mens rea dan actus reus. Mungkin ada yang bertanya-tanya, apa pula ini makhluk? Menurut pengertian bahwa suatu perbuatan dianggap telah melanggar hukum dan dapat dikenakan sanksi pidana, harus dipenuhi dua unsur, yaitu adanya unsur actus reus (physical element) dan unsur mens rea (mental element). Unsur actus reus adalah esensi dari kejahatan itu sendiri atau perbuatan yang dilakukan, sedangkan unsur mens rea adalah sikap batin pelaku pada saat melakukan perbuatan (Zainal Abidin Farid, 1995:35). Jadi seseorang, pada kasus di beberapa negara, harus memenuhi kedua unsur ini untuk dapat memenuhi suatu perbuatan pidana atau istilahnya delik pidana.

Bagi saya pribadi, terlepas bahwa perbuatan itu salah, saya bukanlah orang yang mau ‘menghakimi’ atas perbuatan tersebut. Tapi, bagi saya apakah artis ini bisa dijadikan tersangka?

Berkaca pada kasus sebelumnya, yang melibatkan dua artis wanita dan seorang penyanyi, kenapa pada akhirnya si laki-laki yang dijatuhi hukuman, sementara yang artis wanitanya tidak? Memang betul, kasus yang sekarang ini si perempuannya yang merekam video tersebut, tapi mengapa dia dijadikan tersangka?

Saya bukan ahli hukum dan bukan juga memihak pada si perempuan dan sebenarnya bukan kapasitas saya bicara tentang ini, namun jadinya saya bertanya-tanya dan mungkin ada yang bisa menjelaskan mengapa seseorang bisa dijadikan tersangka atas perbuatan yang dilakukannya hanya untuk ‘konsumsi pribadi’.

Sebenarnya si artis ini lagi apes saja, sama halnya dengan kasus video artis 1sebelumnya, bahwa video mereka sudah terlanjur viral ke mana-mana.

Kalau menurut teman saya, unsur dua alat bukti sudah terpenuhi sehingga si perempuan akhirnya ditetapkan menjadi tersangka. Memang yang menyebarkan video ini juga sudah ditetapkan menjadi tersangka, tapi mens rea si perempuan inikan hanya untuk konsumsi pribadi, bukan untuk disebarkan ke mana-mana.

Pusing ya kalau bicara tentang hukum. Apalagi bukan kapasitas saya sebagai orang yang non hukum. Tapi, ya sudahlah. Mudah-mudahan di persidangan nanti putusan yang dihasilkan adalah putusan yang seadil-adilnya.

Diterbitkan oleh ardiansyahsalim

nothing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: