Menatap Masa Depan

Sebentar lagi, dalam hitungan beberapa jam, kita akan memasuki tahun baru 2021. Di penghujung tahun ini, saya sedang merancang rencana masa depan. Ya, rencana untuk masa depan saya. Banyak hal yang mau saya lakukan dan kerjakan. Semoga satu persatu rencana ini akan terealisasi dengan lancar. Aamiiin!

Rencana pertama, saya ingin menikah, mengingat saya sudah lama menduda. Iya, betul, kalian tidak salah baca. Saya adalah duda dengan usia yang terbilang tidak muda lagi. Tidak mudah sebenarnya saya bercerita tentang ini. Tapi bagi saya ini adalah sarana saya meluapkan dan mengekspresikan diri saya dulu dan sekarang. Karena sekarang, alhamdulillah, saya lebih berbahagia.

Mungkin bagi sebagian orang cerai adalah aib. Bahwa kalau seseorang bercerai, meskipun di agama dihalalkan, adalah suatu tindakan yang tercela. Tapi, jika dalam pernikahan salah satu pihak tidak bahagia, atau dikhianati, atau ditekan, atau terjadi kekerasan fisik, atau seringkali terjadi keributan atas hal-hal yang sepele, atau ada pihak yang melecehkan kehormatan pihak lainnya, apakah layak pernikahan itu dipertahankan? Mungkin bagi sebagian pandangan orang-orang hal-hal yang saya sebutkan bukanlah masalah berarti. Tapi, ya sudahlah saya juga tidak mau membicarakannya. Seperti tagline blog wordpress saya, try to walk a mile in my shoes. Sawang sinawang kalau kata orang Jawa. Bagi orang lain kehidupan saya dianggap sepertinya baik-baik saja, tapi sebenarnya mereka tidak tahu bagaimana di dalamnya. Dan begitupun ketika orang lain memandang kita sebaliknya, vis versa.

Saya sangat setuju dengan pandangan bahwa jangan pernah judging atau menghakimi perilaku atau kehidupan seseorang. Lebih baik kita urus diri kita saja sendiri, daripada mengurus orang lain. Bukan bermaksud egois atau tutup mata jika terjadi sesuatu hal yang tidak sesuai dengan kebenaran ya, tapi menurut saya lebih baik kita perbaiki diri kita saja dulu.

Balik lagi ke pembahasan bahagia. Bagi saya pribadi, semua orang berhak untuk bahagia. Dan kebahagiaan itu bukanlah ditentukan oleh pihak lain. Karena kebahagiaan itu kita yang ciptakan sendiri. Jadi, bahagia itu bukanlah karena kita bersama dengan orang lain. Bahagia itu bagi saya, meskipun kita sendiri, kita bisa menciptakan kebahagiaan buat diri kita sendiri. Tapi bisa juga dengan orang yang tepat kita bisa semakin bahagia.

Menulis adalah salah satu kebahagiaan saya saat ini. Alhamdulillah dengan menulis saya menemukan katarsis bagi diri saya jika saya sedang galau atau dalam kondisi mood yang tidak menentu. Dengan menulis, saya ingin meluapkan perasaan-perasaan yang negatif ataupun berbagi getaran-getaran positif yang saya miliki kepada yang lain. Atau mungkin menulis bisa jadi bagi sebagian orang hanya sekedar dan sesimpel untuk bercerita. Mau nyampah aja. Iya, sesimpel itu.

Saya tidak peduli bagaimana orang-orang akan mengkritisi atau menilai tulisan saya atau saya mengkritisi atau menilai tulisan orang lain, karena bagi saya, masing-masing orang punya gayanya sendiri dalam menulis.

Kebahagiaan saya yang kedua dan yang utama adalah alhamdulillah saya menemukan seseorang yang memaklumi dan memahami kondisi saya saat ini. Karena tidak mudah bagi saya menemukan seseorang dengan status seperti saya sekarang ini. Saya beruntung dia mau menerima saya apa adanya. Terkadang saya menyesali jalan hidup saya terbuang sia-sia selama bertahun-tahun atas pilihan yang (boleh jadi) salah. Memang benar kata orang-orang, menikah jangan karena orang lain, tapi menikahlah karena memang kita sudah siap. Bukan karena tidak tahan atas pertanyaan-pertanyaan orang lain, tentang kapan kita menikah. Tapi memang karena kita sudah membayangkan bagaimana proyeksi masa depan kita.

Saya pernah memproyeksikan diri saya dengan pasangan yang sekarang ini. Saya memiliki meja kerja sendiri di hari libur, mengetik di laptop saya untuk next project buku saya. Ditemani dirinya yang asyik menonton drama Korea. Jika sudah lelah saya akan nimbrung mengikuti drakor yang sedang dia tonton, sambil membahas jalan cerita atau plot dari kisah drakor tersebut  Proyeksi yang saya sulit imajikan di kehidupan saya sebelumnya.

Saya merasakan kini saya sangat produktif. Mungkin berkat dukungan dirinya saya jadi bebas menulis. Berkat dukungannya saya memperoleh juara 1 penulisan lomba artikel di majalah PPM Manajemen dalam rangka peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober yang lalu, ini linknya saya bagikan di sini, password membuka majalahnya: PPM_2020. Tulisan saya ada di halaman 38-43. Suatu prestise bagi seorang saya untuk bisa masuk dalam majalah manajemen bergengsi se-Indonesia.

Kemudian, achievement saya berikutnya saya meraih tes IELTS 7! Bisa membaca postingan saya sebelumnya di sini. Mudah-mudahan saya bisa melanjutkan studi doktoral di overseas deh. Cita-cita saya sejak kecil. Meskipun sudah pernah mengecap pendidikan internship di Maastricht, Belanda. Tapi, keinginan untuk sekolah lagi di luar negeri tak akan pernah padam. Semoga Allah mendengarkan doa saya ini. Aamiin!

Di atas sudah bicara tentang kebahagiaan, sekarang saatnya bicara kesedihan. Jujur, terkadang saya suka sedih dengan orang-orang yang sudah memiliki anak-anak yang sudah beranjak dewasa atau mendengarkan cerita orang-orang yang punya anak, menceritakan tentang bagaimana sekolah anaknya, kepintaran anaknya, dan polah laku anak-anak mereka. Tapi ternyata, terkadang kenyataan tidak seindah cerita-cerita yang ada. Saya melihat banyak bukti, bahkan ini menimpa pada orang terdekat saya. Kebahagiaan itu tidak melulu diukur dengan seberapa banyak harta kita, anak-anak kita, atau kesuksesan karir kita. Hidup ini bukanlah perlombaan di antara siapa yang mencapai hal-hal seperti karir,  kekayaan, ketenaran, keluarga yang bahagia, dan anak-anak yang sukses. Anak yang lucu dan pintar, karir yang melesat, harta kekayaan yang berlimpah yang pada akhirnya bisa berujung menjerumuskan atau pada titik perpisahan. Jadi, kembali lagi pada premis bahwa kebahagiaan bukan diukur dengan ukuran-ukuran seperti itu. Bagi saya bahagia cukup dengan menikmati hujan, memandang pelangi, melihat Monas, dan sebagainya. Jadi intinya bahagia itu sebenarnya simpel kok.

Terakhir, live your life everyday, be grateful and embrace it. ‘Coz no one knows until when their time in this world…

Semoga tahun 2021 membawa keberkahan dan pandemi Covid-19 ini segera berakhir. Aamiin

#Page 366 of 366

Diterbitkan oleh ardiansyahsalim

nothing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: