Teriak

Suatu malam kami dikejutkan dengan suara teriakan dan orang menangis. Sontak kami terkejut dan menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Ketika itu kami, saya dan sepupu, sedang duduk-duduk di teras mengobrol tentang segala hal.

Teriakan itu terjadi malam sekali, sekitar pukul sepuluh lewat. Tak lama setelah teriakan itu terjadi, sepupu kami mendapatkan whatsapp dari orang yang kami dekat. Ternyata, dugaan kami benar. Teriakan itu berasal dari orang dekat kami. Kami sebenarnya sudah menduganya. Namun, yang menjadi pertanyaan, kenapa dia nekat berteriak tengah malam?

Kadang, kita sebenarnya dalam kondisi yang benar-benar berat, tekanan dari kehidupan, pekerjaan, pasangan, ataupun permasalahan kehidupan lainnya dapat membuat kita tidak kuat lagi menanggungnya.

Hidup ini kadang membuat kita ingin melepaskan sesak di dada, dengan berteriak. Berteriak mungkin bisa jadi katarsis bagi sebagian orang. Dengan berteriak seakan-akan melepaskan beban hidup kita.

Bagi saya, menulis adalah cara saya ‘berteriak’. Meskipun terkadang saya masih menahan diri dalam menulis, ada hal-hal yang masih saya simpan, sehingga ‘teriakan saya kurang keras’. Mungkin pada waktunya saya akan bercerita panjang lebar dan ‘berteriak lebih keras’ dari yang sekarang.

Sedih sebenarnya ketika saya tahu penyebab mengapa dia berteriak. Meraung-raung dan menyayat hati teriakannya, bercampur dengan tangisan. Jadi ingat, ketika saya juga pernah menyebabkan orang histeris. Dan itu menimbulkan perasaan yang bermasalah dalam diri saya.

Saya tidak pernah akan memaafkan diri saya untuk itu dan saya menyesali perbuatan saya hingga sekarang. Andaikan saya dapat memutar waktu, mungkin saya tidak akan pernah menyakitinya.

Dan yang lebih memalukan, saya membuat dirinya histeris melalui telepon. Iya, saya sepengecut itu saudara-saudara. Dan saya sangat-sangat menyesalinya.

Dulu pun ketika kuliah, saya pernah membuat seseorang yang saya sayangi histeris. Dan dia sampai memohon kepada saya. Tapi saya sudah bulat dan saya pun tetap bergeming dengan putusan saya. Entah apa yang merasuki saya sehingga saya tega melakukan itu.

Jujur, saya tidak bangga dengan kelakuan saya selama ini. Tapi, ya sudahlah. Hidup saya juga hancur. Mungkin ini sudah karma dari orang-orang yang pernah saya sakiti. Saya menerima atas karma tersebut. Mendapati seseorang yang ternyata kelakuannya, ya sudahlah tidak perlu dibahas.

Mudah-mudahan babak baru nanti saya bisa memperbaiki diri saya menjadi diri yang lebih baik lagi. Aamiiin.

Diterbitkan oleh ardiansyahsalim

nothing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: