Takut (trilogi 1)

Apa ketakutan terbesar dalam hidup saya? Mungkin setiap orang kalau ditanyakan ini tentu orang akan berpikir keras tentang ketakutan terbesar dalam hidupnya.

Mungkin semua orang akan berpikir ketakutan terbesar dalam hidup adalah mati. Ya, mati mungkin adalah ketakutan terbesar dalam hidup setiap orang. Tidak ada orang yang akan siap dengan kematian. Melepaskan segala kenikmatan dunia ini, lepas selama-lamanya dari orang-orang yang dicintai.

Apalagi ketika kita menyaksikan orang yang sakit berbulan-bulan, seolah-olah dia tersiksa dalam sakitnya. Tapi, menurut agama, sakitnya adalah penggugur dosa-dosanya selama hidup.
Mungkin saat ini bisa jadi ketakutan orang-orang dikarenakan virus corona. Karena membaca kisah-kisah orang yang terkena corona, sangatlah menderita. Ini yang saya rasakan ketika mengikuti berita teman-teman yang terkena corona. Semoga, mereka yang kehilangan orang-orang terkasihnya diberi kesabaran dan bagi yang sudah mendahului diberi tempat yang layak di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Aamiin.

Kemudian, bagi saya, selain kematian, ketakutan terbesar saya adalah selama hidup menyusahkan orang lain. Menyusahkan dalam artian menyakiti hati orang, baik karena tindakan maupun ucapan.

Saya dalam hidup ini sudah banyak menyakiti orang-orang. Kadang ingin sekali sebelum saya mati bertemu dengan orang-orang yang pernah saya sakiti dan kecewakan. Meminta maaf satu persatu dan menyesali perbuatan saya padanya. Tapi, hal ini sulit untuk dilakukan tentunya. Orang-orang yang pernah saya sakiti entah kemana nomer telponnya. Ada beberapa orang yang bahkan sudah terblokir dan terhapus nomernya dari daftar telponnya.

Ya itulah saya. Saya dan keburukan sikap dan sifat. Kalau saya pernah ‘bermasalah’ dengan seseorang, saya pasti akan memblokir nomernya dari HP. Hal ini saya lakukan agar saya tidak pernah ada pikiran untuk menghubungi mereka. Tidak mau mengganggu kehidupan mereka dan keluarganya.

Ya benar. Yang saya bicarakan di sini mereka yang pernah singgah dalam hidup saya dan mengisi relung hati. Saya bukanlah orang yang bisa berteman dengan mereka yang pernah singgah dalam kehidupan. Apa manfaatnya? Bukankah berteman dengan mereka bisa menyakiti pasangan kita dan boleh jadi menyakiti pasangannya?

Saya mengenal orang yang berteman dengan mantan. Baginya, berteman dengan mantan menjaga hubungan silaturahim. Tapi, sebenarnya itu menyakiti hati pasangannya. Apalagi masih aktif berhubungan dengan si mantan tersebut.

Ya sudahlah. Mungkin itu cara dia berteman. Kembali lagi kepada keinginan saya untuk meminta maaf atas kesalahan dalam hidup saya atas perbuatan saya ke mantan. Saya pernah menyampaikan keinginan tersebut kepada salah seorang sepupu saya. Tanggapannya dia, buat apa minta maaf kepada mereka?

Menurut saudara saya itu, boleh jadi dia pernah menyakiti saya, vis versa. Sudahlah, kita manusia pasti tak luput dari kesalahan dan kekeliruan. Yang penting kita sudah meminta maaf ketika masih bersama-sama. Begitu kata saudara sepupu saya.

Menyusahkan orang artian selanjutnya adalah ketika saya tua nanti, saya tidak mau membuat orang susah karena saya, baik selama hidup saya maupun menjelang kematian saya.

Saya berdoa agar hidup saya membawa manfaat dalam hidup orang lain. Harapannya, mudah-mudahan kehadiran saya akan membawa kegembiraan dalam hidup orang lain. Orang lain akan merasa kehilangan jika saya tidak hadir dalam hidup mereka. Ge-er banget ya? Tapi bukankah menyenangkan, jika dalam hidup kita dikangeni orang? Dan, pada saatnya nanti jika saya tidak ada selama-lamanya, orang akan kehilangan akan kita. Seperti halnya saya rindu akan kehadiran orang-orang yang saya sayangi, yang telah pergi untuk selama-lamanya.

Diterbitkan oleh ardiansyahsalim

nothing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: